Label Halal Pada Makanan Kucing

Beberapa bulan yang lalu saya melihat sebuah merek baru pakan kucing produk dalam negeri di sebuah petshop, menariknya dalam kemasan produk ini terdapat label halal mirip seperti label halal pada makanan manusia pada umumnya. Awalnya saya berpikir ini hanyalah sebuah trik pemasaran untuk tampil beda sehingga saya tidak terlalu memperdulikannya.

Pada kesempatan lain saya bertemu seorang technical service dari sebuah produsen pakan kucing dan anjing yang diproduksi di Tiongkok. Adalah wajar ketika technical service tersebut menjelaskan banyak kelebihan produknya namun yang paling menarik bagi saya adalah ketika dia menjelaskan bahwa produk pakan yang dijualnya menggunakan bahan baku yang bebas daging babi atau “pork free” , hal ini sungguh mengherankan saya sehingga spontan bertanya: apakah daging babi juga haram bagi kucing?, konon kata technical service tersebut – saat ini banyak yang menganggap ini (label halal pada makanan kucing) sebagai satu keharusan. Dari sudut pandang marketing adalah wajar jika produsen mengikuti arus pasar.

Tadinya saya berpikir masalah label halal untuk kucing adalah sekedar gimmick marketing saja, namun ketika salah seorang klien menceritakan bahwa saat ini banyak pemilik kucing yang berpendapat (atau lebih tepatnya bergossip) bahwa label halal untuk pakan kucing adalah sebuah keharusan maka saya pikir ini sudah berlebihan.

Jadi pertanyaannya adalah : apakah kucing harus diberi makanan yang berlabel halal ? apa akibatnya jika kucing yang kita pelihara tidak mendapatkan pakan yang berlabel halal?

Sebelum saya menyampaikan pendapat saya, perlu saya jelaskan bahwa pengetahuan agama (Islam) saya sangatlah tipis jadi saya akan berpendapat menurut logika orang awam saja. Jika ada pembaca tulisan ini yang berpendapat berbeda dengan senang hati saya mengundang untuk menyampaikan pendapatnya di kolom komentar, saya akan menampilkan semua komentar yang masuk namun tidak akan menjawabnya.

Adalah berlebihan jika mengharuskan kucing makan makanan yang berlabel halal apalagi mengharuskan label halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Menurut saya hukum yang mengharuskan makan makanan halal secara Islam hanya berlaku bagi mereka yang “terbebani” oleh hukum tersebut dan dalam hal ini adalah umat Islam sedangkan kucing dan binatang yang lain tidak terbebani hukum tersebut sehingga tidak perlu tunduk pada hukum halal haram sebagaimana manusia.

Saya tidak mengetahui logika yang dipakai oleh mereka yang menghendaki label halal bagi pakan kucing namun mungkin ini berasal dari semangat beragama (Islam) yang tinggi sehingga ingin membuat segala aspek kehidupannya benar benar murni Islami. Mungkin mereka berpendapat jika kucing makan makanan yang tidak halal maka kucing tersebut menjadi haram untuk disentuh (maaf ini hanya dugaan saya saja).

Logika saya mengatakan jika benar kucing harus tunduk pada hukum makanan halal sebagaimana manusia, maka konsekuensinya kucing juga tidak boleh makan tikus yang tidak disembelih secara Islami, tidak boleh juga makan cicak karena cicak bukanlah produk halal. Bisa anda banyangkan betapa rumitnya kehidupan kucing kalau harus tunduk pada hukum halal haram seperti kita manusia?.

Atas dasar itu saya menganggap pendapat yang mengatakan pakan kucing haruslah berlabel halal adalah hal yang berlebihan dan tidak masuk akal. Tidak perlu mempermasalahkan label halal pada kemasan pakan kucing, cukuplah bagi kita untuk memastikan bahwa setiap rupiah uang yang kita pakai untuk membeli pakan kucing adalah benar benar uang halal.

2 tanggapan untuk “Label Halal Pada Makanan Kucing

  1. Hmm bahasan yang menarik, saya jadi berfikir apakah benar harus atau tidak .. tapi menurut pemikiran saya, label halal ini diperuntukkan untuk makanan yang pork free, tapi bukan berarti beberapa produk pakan hewan peliharaan yang tidak berlabel halal berisi pork. mungkin bisa saja (saya juga tidak tahu) tidak mengandung babi juga tetapi tidak dilabeli?

    terlepas dari itu bagaimana kalau memang produk tersebut berbahan pork dan dimakan kucing misalnya, misalkan dia pup / bak berarti itu mengandung pork tersebut bukan. tapi terlebih dari itu tujuan dari diberlakukannya haram pada babi karena babi dianggap mengandung cacing yang memiliki nilai negatif lebih banyak kepada manusia, sehingga dapat menyebabkan berbagai penyakit (merugikan). tapi apakah sama efeknya jika untuk kucing? masih belum diketahui, tapi kalau memang sama berarti sebaiknya tidak dikonsumsi demi kesehatan anak bulu juga ^^

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.